“Hari ini kami melakukan kunjungan manajemen setelah sebelumnya dilakukan soil test. Ini merupakan bagian dari penyusunan kajian kelayakan untuk proyek pembangunan Pabrik Bioetanol Terintegrasi di area Pabrik Gula Glenmore, yang sejalan dengan Peraturan Presiden RI No. 40 Tahun 2023,” ujar Mahmudi, Direktur Utama SGN.
Mahmudi menjelaskan bahwa pabrik bioetanol ini akan memiliki kapasitas produksi sebesar 30.000 kilo liter per tahun. Proyek ini akan didanai oleh Pertamina, sementara SGN akan menyediakan bahan baku berupa tetes tebu dari PG Glenmore. Lokasi pabrik bioetanol yang berada di sebelah selatan PG Glenmore memudahkan distribusi bahan baku.
“Kami berharap ini dapat membantu pemerintah dalam memenuhi target Perpres 40/2023, yaitu swasembada gula sekaligus penyediaan bioetanol. Kolaborasi dengan Pertamina NRE juga menjadikan ini sebagai pabrik kedua di bawah PTPN Group, setelah yang pertama di Mojokerto,” tambah Mahmudi.
Iin Febriana, Direktur Manajemen Risiko Pertamina NRE, menegaskan bahwa pembangunan pabrik bioetanol ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina untuk mendukung ketahanan energi nasional.
“Kami telah berhasil mengembangkan biodiesel, dan sekarang kami mendorong pengembangan bioetanol melalui kolaborasi dengan SGN dalam membangun pabrik bioetanol kedua ini,” ujar Iin Febriana.
Update Kinerja PG Glenmore: Produksi Tebu Meningkat dari Tahun Lalu
Hingga minggu kedua Oktober 2024, PG Glenmore telah menggiling 799 ribu ton tebu, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama di tahun 2023 sebesar 728 ribu ton. Produksi gula juga mengalami peningkatan, mencapai 56 ribu ton hingga Oktober 2024, dibandingkan 52 ribu ton pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Peningkatan ini juga terlihat di seluruh pabrik gula yang dikelola SGN, dengan total 11 juta ton tebu yang digiling hingga saat ini, dibandingkan 10 juta ton pada tahun 2023. Produksi gula saat ini mencapai 807 ribu ton, lebih tinggi dari 745 ribu ton pada periode yang sama tahun lalu. (dan)

