Sapma Pemuda Pancasila Jatim : Pemecatan Prof Bus dari Dekan FK Unair membungkam kebebasan berpendapat

Surabaya, MercuryFM – Buntut dari kasus pemecatan Prof. Budi Santoso (Prof Bus) dari jabatannya sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) pada Rabu, 3 Juli 2024 lalu, terus menuai polemik.

Tidak saja dari kalangan sivitas akademika Unair yang menggelar aksi demontrasi dan keprihatinan, reaksi serupa juga datang dari pihak luar. Satuan Pelajar-Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP) turut mengkritik langkah rektor Unair yang mencopot Dekan FK karena menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Ketua PW Sapma Pemuda Pancasila Jatim Arderio Hukom mengatakan soal pemecatan Prof Bus usai memberikan opini dan pendapatnya soal penolakan terhadap kebijakan pemerintah mendatangkan dokter asing adalah ironi yang cukup memprihatinkan.

Menurutnya ini adalah persoalan penyembelihan kebebasan berpendapat yang masih kerap terjadi, sejak zaman kolonialisme.

“Alih-alih menunjukkan kekuatan melalui abuse of power dengan harapan memunculkan ‘ketakutan’ dan ketertiban normatif di lingkungan sivitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,” tutur Arderio dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (5/7/2024).

“Melalui pemecatan terhadap dekan yang
memberikan opini kontra kebijakan pemerintah, kali ini malah menjadi boomerang mematikan bagi kelembagaan perguruan tinggi,” imbuhnya.

Arderio melihat aksi bersama yang dilakukan ratusan dosen dan mahasiswa FK Unair pada Kamis 4 Juli 2024 di halaman FK Unair menunjukkan gerakan perlawanan terhadap upaya pembungkaman kebebasan berpendapat akademik tidak pernah padam.

Ia berpendapat preseden buruk semacam ini bila terus dibiarkan dan dinormalisasi akan menjadi duri terhadap kebebasan berpendapat akademik, lebih-lebih perguruan tinggi harus mampu menjadi mimbar sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan.

“Tentu semangat ini sesuai dengan Pancasila sebagai ideologi negara yang mengedepankan azas-azas musyawarah dan peletekan kepentingan orang banyak (maslahat) diatas kepentingan kelompok dan golongan,” tutur Arderio.

Pemecatan Prof Bus dari jabatannya sebagai dekan FK Unair, diyakini tidak memiliki dasar yang jelas dan semata-mata adalah soal kepentingan. Akibat pendapat Prof Bus yang kontra terhadap kebijakan pemerintah soal program mendatang dokter asing oleh pemerintah.

“PW SAPMA PP Jawa Timur menilai, pemecatan dekan FK Unair merupakan triger buruk dan destruktif terhadap upaya membuka ruang opini, gagasan dan narasi akademik untuk membangun dan menhidupkan nalar sehat konstruktif diranah akademik,” urai Arderio.

PW SAPMA PP Jatim mengajak serta seluruh kader SAPMA PP baik yang berada dilingkungan Universitas Airlangga, maupun perguruan tinggi lain untuk bersama-sama saling menjaga.

“Agar kebebasan berpendapat utamanya di ranah akademik tetap hidup, serta turut aktif melawan indikasi-indikasi penyembelihan’ dan pembelengguan kebebasan berpendapat yang ada,” pungkasnya.(dan)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist