Surabaya, MercuryFM – Adhesive capsulitis atau frozen shoulder adalah keluhan pada bahu yang dapat dialami oleh siapa saja, namun biasanya dialami oleh pekerja kantoran, mengingat bahwa pekerjaan mereka sebagian besar waktu dilakukan dengan duduk dan bekerja di depan layar komputer.
Kondisi frozen shoulder ini biasanya ditandai dengan rasa nyeri dan kaku pada bahu. Frozen shoulder bisa memburuk seiring berjalannya waktu, bahkan hingga bertahun-tahun. Mari cari tahu informasi lebih lanjut tentang frozen shoulder atau adhesive capsulitis dalam ulasan di bawah ini.
Assoc Prof Dr (G) Ruslan Nazaruddin Simanjuntak, Konsultan Ortopedi, Artritis Dan Olahraga, dari ALTY Orthopaedic Hospital, mengatakan Frozen shoulder biasanya dapat didiagnosis berdasarkan tanda dan gejala saja. Namun tes pencitraan seperti sinar-X, USG atau MRI – dapat menyingkirkan masalah lain.
“Frozen shoulder dapat berkembang ketika kita berhenti menggunakan sendi karena sakit, cedera, atau kondisi kesehatan kronis. Setiap masalah bahu dapat menyebabkan frozen shoulder jika kita tidak melatih lingkup gerak persendian. Menebalnya jaringan yang membentuk kapsul saat seseorang mengalami frozen shoulder menyebabkan terganggunya pergerakan bahu,” kata Prof. Ruslan Nuruddin Simanjuntak, saat ditemui di Surabaya, Senin (1/7/2024).
Prof. Ruslan Nuruddin Simanjuntak menjelaskan secara umum, gejala dari bahu kaku akan terjadi dan terbagi ke dalam 3 tahapan. Setiap tahapan bisa terjadi selama beberapa bulan. Tahap pertama ditandai dengan sulitnya menggerakkan bahu dan pergerakan bahu yang mulai terbatas selama 2 hingga 9 bulan. Lalu, nyeri yang berkurang, tetapi bahu justru semakin kaku dan sulit digerakkan, umumnya terjadi antara 4 hingga 12 bulan. Terakhir, bahu telah mulai membaik dan nyeri yang berkurang perlahan yang terjadi antara 1 hingga 3 tahun.
Ditegaskan Prof. Ruslan Sebenarnya, frozen shoulder bisa terjadi pada siapa saja. Namun, ternyata wanita yang berusia 40 tahun ke atas berisiko mengalami kelainan ini. Terlebih jika wanita sering memanggul tas hanya dalam satu bahu, karena wanita sering mengenakan tas bahu dibandingkan dengan tas punggung. Selain itu, orang-orang yang mengidap penyakit diabetes, tuberkulosis, jantung, masalah hormon tiroid, dan penyakit Parkinson memiliki risiko terserang bahu kaku yang sama tingginya.
“Dari yang pernah berobat ke ALTY Orthopaedic Hospital, 10 orang pasien, 6 diantaranya perempuan,” jelasnya.
Ditegaskan Prof Ruslan sering membawa tas berat di satu sisi bahu saja kebiasaan para wanita, kebiasaan ini bisa menyebabkan keseleo atau robek pada otot dan tendon karena bawaan yang berat. Meskipun banyak diabaikan, namun membawa banyak barang bawaan pada tas dapat berpengaruh terhadap kesehatan bahu. “Bila terlalu sering serta menjadi kebiasaan, maka bisa-bisa rasa sakit merambat dari bahu, leher, baru ke punggung,” paparnya.
Prof. Ruslan mengingat kan apabila kita positif mengalami bahu kaku, pengobatan yang dilakukan biasanya adalah fisioterapi yang dikombinasikan dengan konsumsi obat untuk meredakan nyeri pada bagian bahu.
“Jika keduanya masih tidak membuat bahu kaku membaik, dokter dapat melakukan tindakan manipulasi bahu untuk melemaskan jaringan pada bahu yang menegang, distensi bahu untuk peregangan jaringan bahu dan memudahkan sendi bergerak, serta artroskopi dengan membuang jaringan parut dan jaringan yang menempel pada sendi bahu,” tandasnya.(dan)

