Surabaya, MercuryFM – Suro dimaknai sebagai bulan pertama dalam sistem kalender Jawa-Islam. Penyebutan kata ‘Suro’ bagi orang Jawa adalah bulan Muharam dalam kalender Hijriah. Kata tersebut berasal dari kata ‘Asyura’ dalam bahasa Arab dan dicetuskan oleh Raja Mataram Islam, Sultan Agung. Tujuannya menyatukan masyarakat Jawa.
Berbagai tradisi unik dan menarik digelar masyarakat untuk memperingati 1 Suro atau 1 Muharram tahun baru Hijriah. Seperti yang dilakukan warga kampung Kejawan Gebang, Kecamatan Sukolilo Surabaya.
Warga antusias berkumpul di Masjid Baitun Nur Kejawan Gebang sambil membawa makanan, untuk melakukan doa bersama mengharap berkah. Kemudian saling berbagi makanan yang sebelumnya berbentuk gunungan.
“Sebelumnya kita juga menggelar acara pawai 1 Muharram 1145 Hijriah yang diikuti warga sekitar,” ujar Nurul Bashori pembina takmir masjid Baitun Nur Kejawan Gebang usai doa bersama, pada Selasa (18/07/2023) malam.
Di acara doa bersama tersebut turut hadir legislator Fraksi PDI Perjuangan Kota Surabaya Anas Karno sebagai tamu undangan.
“Alhamdulillah acara Suroan tahun ini lebih semarak dibandingkan 2 tahun sebelumnya, karena sudah bebas dari masa pandemi,” ujarnya.
Wakil Ketua Komisi B DPRD kota Surabaya tersebut berpesan, lewat tradisi Suroan, menjadi momentum masyarakat untuk memperkuat ukhuwah.
“Islam mengenal 3 ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah Basyariyah atau Insaniyah (persaudaraan umat manusia),” terangnya.
Oleh karena itu, Anas Karno berharap kearifan budaya lokal ini tidak tergerus di era modernisasi
“Ini harus terus dilestarikan agar generasi berikutnya bisa menjaga tradisi dan budaya yang sarat pesan-pesan moral yang baik,” pungkasnya. (Lam)

