Pertumbuhan UMKM Berbasis Wilayah

Surabaya, MercuryFM – Rumah UMKM edisi Rabu (10/05/23), “Pertumbuhan UMKM Berbasis Wilayah” menghadirkan Ika Chairani sosok energik dengan segudang kegiatannya. Ika sapaan akrab perempuan cantik ini, selain sebagai jurnalis di bangsa.id, juga sebagai koordinator relawan KNPA, Pendampingan Desa Mandiri, dan trainer Digital Entrepreneurship. Sesuai dengan tema “Pertumbuhan UMKM Berbasis Wilayah” di Rumah UMKM kali ini, Ika akan mengulas tentang kegiatannya sebagai seorang Pendamping Desa Mandiri.

Sejauh ini ada anggapan kalau UMKM tanpa ada pendampingan secara wilayah, tidak akan maju. Disini peran seorang pembimbing atau pembina bagi pelaku UMKM sangat penting, agar UMKM diwilayah itu bias tumbuh. Menanggapi ini, Ika mengakui, saat ini lebih memfokuskan diri melakukan pendampingan Desa Mandiri. Kenapa bukan Desa Wisata? karena menurut Ika, tidak semua daerah mempunyai tempat wisata. Kenapa disebut Desa Mandiri? karena menurut Ika, desa mandiri itu bisa mandiri umkmnya, mandiri pariwisatanya dan desa yang ramah kepada anak dan perempuan. Karena menurut Ika, sejauh ini masih kecil sekali pemikiran akan hal ini.

Ika mengaku, baru fokus melakukan pendampingan pada tahun 2020, tepatnya saat pandemi Covid-19 melanda. Dimana saat itu, terang Ika, banyak pelaku UMKM mengalami drop termasuk dirinya. Ika mengatakan, pelaku UMKM bukan hanya makanan dan minuman atau pun pelaku handmade (handicraft). Tetapi peternak ikan cupang (bettafish), seperti dirinya kala itu, juga bisa disebut sebagai pelaku UMKM. Ika mengaku, beternak bettafish yang awalnya merupakan hobi, akhirnya menjadi usaha.

Perempuan energik ini meyakini prinsip, harus tetap bergerak harus tetap punya link. “Dengan link yang kita punya, bisnis kita berkembang. Sebab, kalau kita jualannya hanya di sektor itu-itu saja takutnya bukan target atau pasar yang tepat yang kita dapatkan,” kata trainer Digital Entrepreneurship ini. Sementara koreksi untuk teman-teman UMKM, kata Ika, banyak yang mengeluhkan productnya tidak laku, karena salah jualan. “Harus introspeksi beberapa hal, termasuk apakah pasar yang kamu masukin sudah benar? HPP sudah dihitung apa belum? media sosial kamu bagaimana? ketiga hal ini harus menjadi concern para pelaku UMKM,” terang Ika. (Nla)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist