Defisit Perdagangan Jatim Tembus US$3,63 Miliar, Impor Mesin dan Baja Melonjak

Surabaya, MercuryFM – Neraca perdagangan Provinsi Jawa Timur masih berada dalam tekanan. Sepanjang Januari hingga September 2026, Jawa Timur mencatat defisit perdagangan sebesar US$3,63 miliar. Kondisi ini terjadi karena nilai impor lebih besar dibandingkan ekspor.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur pada 2 November 2026, nilai ekspor kumulatif Jawa Timur selama Januari–September 2026 mencapai US$21,26 miliar. Sementara nilai impor tercatat sebesar US$24,89 miliar.

Dibandingkan periode yang sama tahun 2025, nilai ekspor mengalami pertumbuhan sebesar 7,25 persen. Namun, nilai impor juga meningkat lebih tinggi, yakni 15,51 persen.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan impor masih melampaui pertumbuhan ekspor. Selisih kinerja kedua sektor perdagangan ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit.

Jika dilihat berdasarkan kelompok komoditas, perdagangan migas menjadi salah satu penyumbang tekanan. Pada September 2026, neraca perdagangan migas mengalami defisit US$0,31 miliar. Sebaliknya, sektor nonmigas masih mencatat surplus US$0,20 miliar.

Dengan demikian, neraca perdagangan total Jawa Timur pada September 2026 mengalami defisit US$0,11 miliar.

Dari sisi impor, mesin dan peralatan mekanis menjadi komoditas impor nonmigas terbesar selama Januari–September 2026. Tiga kelompok komoditas utama yang mencatat nilai impor besar lainnya adalah besi dan baja serta plastik dan barang dari plastik.

Tiongkok juga menjadi negara asal utama impor Jawa Timur dengan nilai mencapai US$1,13 miliar atau memiliki pangsa 40,98 persen dari impor nonmigas berdasarkan data yang disajikan BPS.

Sementara dari sisi ekspor, komoditas tembaga menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Jawa Timur. Nilainya mencapai US$333,99 juta dengan pangsa 8,98 persen.

Selain tembaga, perhiasan dan permata serta lemak dan minyak hewan atau nabati juga menjadi komoditas andalan ekspor Jawa Timur.

Tiongkok kembali menempati posisi utama sebagai negara tujuan ekspor nonmigas Jawa Timur dengan nilai mencapai US$3,07 miliar. Jepang menjadi salah satu pasar penting lainnya dengan nilai ekspor US$990,68 juta.

Data perdagangan ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan luar negeri Jawa Timur masih menghadapi tantangan. Pertumbuhan ekspor perlu terus diperkuat agar mampu mengimbangi peningkatan impor, sekaligus memperbaiki neraca perdagangan daerah. (lam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist