Mangrove hingga Sampah Disulap Jadi Cuan, Warga Pesisir Teluk Asmara Didorong Punya Penghasilan Baru

Malang Selatan, MercuryFM – Hutan mangrove, sampah, sisa kayu, hingga hasil laut menyimpan peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir. Di Pantai Teluk Asmara, Malang Selatan, potensi tersebut mulai didorong menjadi sumber penghasilan baru tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Melalui gerakan Merawat Bumi Pertiwi yang digagas PDI Perjuangan, warga pesisir diajak mengembangkan usaha berbasis konservasi. Bukan sekadar menanam mangrove, program ini juga menyasar pengolahan limbah, kerajinan suvenir, produk olahan hasil laut, hingga peluang wisata bahari dan perdagangan karbon.

Kegiatan tersebut menghadirkan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini, serta Anggota DPR RI Andreas Edi Susetyo. Nelayan, istri nelayan, dan generasi muda pesisir turut dilibatkan.

Anggota DPR RI Andreas Edi Susetyo mengatakan, konservasi mangrove tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika dikelola secara berkelanjutan.

“Konservasi, baik hutan maupun mangrove, mempunyai nilai manfaat ekonomi,” kata Andreas.
Menurutnya, generasi muda didorong mengolah sisa kayu menjadi produk kerajinan atau handicraft yang memiliki nilai jual. Produk tersebut berpeluang dipasarkan sebagai suvenir untuk wisatawan hingga memasuki sektor perhotelan.

Pendekatan ini membuka peluang agar material yang sebelumnya dianggap limbah dapat menjadi bahan baku usaha. Namun, pengembangannya membutuhkan peningkatan keterampilan, desain produk yang menarik, serta akses pemasaran yang lebih luas.

Istri Nelayan Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga

Peluang ekonomi juga diarahkan kepada keluarga nelayan, terutama para istri. Selama ini, cuaca buruk yang membuat nelayan tidak bisa melaut berpotensi mengurangi pendapatan rumah tangga.

Andreas mendorong pengolahan hasil laut menjadi produk bernilai tambah agar keluarga nelayan memiliki alternatif penghasilan ketika aktivitas penangkapan ikan terhenti.

“Kalau nelayan tidak bisa melaut, salah satu sumber pendapatan bisa berasal dari bagaimana ibu-ibu mengembangkan hasil laut tersebut,” ujarnya.

Selain pengolahan hasil laut, nelayan juga didorong menjajaki usaha budidaya ikan. Diversifikasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

Risma Soroti Kualitas Produk dan Kebersihan Wisata

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini menekankan pentingnya peningkatan kualitas produk lokal agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Pelatihan yang diberikan mencakup pengembangan suvenir, desain produk, pemilihan bahan, hingga pengolahan makanan agar lebih tahan lama.

“Jadi, kita bantu pelatihan untuk para pengrajin, terutama suvenir, agar mereka bisa memasuki pasar yang lebih atas dengan kualitas desain dan bahan yang lebih baik,” kata Risma.

Risma juga melihat pariwisata bahari sebagai peluang untuk memperluas sumber penghasilan warga. Nelayan dapat memanfaatkan perahu yang dimiliki untuk menjajaki layanan wisata, dengan tetap memperhatikan keselamatan, kenyamanan, dan kebersihan kawasan.

“Tidak ada wisata di mana pun yang sukses tanpa kebersihan,” tegasnya.

Menurut Risma, meningkatnya kunjungan wisatawan berpotensi menggerakkan usaha lain, mulai dari penjualan suvenir hingga kuliner lokal. Dengan begitu, manfaat pariwisata diharapkan turut dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi.

Hasto Ingin Konservasi Menjadi Gerakan Berkelanjutan

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan, gerakan Merawat Bumi Pertiwi tidak semestinya berhenti pada kegiatan penanaman pohon atau aksi lingkungan sesaat.
Gerakan tersebut, menurutnya, perlu tumbuh menjadi budaya bersama yang berlandaskan kemanusiaan, keadilan, kepedulian terhadap alam, dan semangat gotong royong.

Hasto turut mengapresiasi upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan masyarakat setempat, termasuk Saptoyo dan Roni, penerima penghargaan Kalpataru yang dinilainya dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.

“Kami juga belajar untuk diterapkan di daerah-daerah lain,” ujarnya.

Pengalaman pengelolaan lingkungan dan pengembangan ruang hijau yang pernah dilakukan Tri Rismaharini selama menjabat Wali Kota Surabaya dua periode juga menjadi salah satu rujukan dalam mendorong keterkaitan antara konservasi dan manfaat ekonomi masyarakat.

Tantangannya, Pelatihan Harus Berujung pada Penghasilan

Mengubah potensi alam menjadi sumber penghasilan berkelanjutan tidak cukup hanya melalui pelatihan. Warga membutuhkan pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, akses pasar, serta perawatan mangrove dalam jangka panjang.

Peluang perdagangan karbon juga memerlukan pengukuran dan verifikasi manfaat penyerapan karbon serta mekanisme yang jelas sebelum dapat menghasilkan pendapatan bagi masyarakat.

Karena itu, keberhasilan gerakan Merawat Bumi Pertiwi perlu dilihat bukan hanya dari jumlah mangrove yang ditanam atau pelatihan yang digelar, melainkan juga dari keberlanjutan ekosistem, berkembangnya usaha warga, dan bertambahnya sumber penghasilan keluarga pesisir.

Jika konservasi berjalan seiring dengan penguatan usaha masyarakat, Teluk Asmara berpeluang menunjukkan bahwa menjaga alam dan meningkatkan kesejahteraan bukan dua tujuan yang harus dipertentangkan.

Mangrove tetap terlindungi, limbah memiliki nilai tambah, hasil laut bisa diolah, dan pariwisata membuka peluang usaha baru bagi warga pesisir. (lam)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist