Surabaya, MercuryFM – Lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur sepanjang tahun 2026 menjadi sinyal bahaya serius. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jatim, jumlah kasus ISPA pada Agustus 2026 melonjak hingga 212.914 kasus. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang tahun ini sekaligus melampaui rata-rata bulanan tahun 2025 yang berada di angka 111.393 kasus (naik 36,2 persen).
Dengan kondisi tersebut, Wakil Ketua DPRD Jatim dari Fraksi PDIP Jatim Deni Wicaksono mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim bersama pemerintah kabupaten/kota untuk segera mengambil langkah intervensi konkret dan tidak sekadar merawat pasien yang jatuh sakit.
“Lonjakan kasus ISPA ini harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Penanganannya tidak bisa hanya bertumpu pada rumah sakit dan pengobatan. Pencegahan harus diperkuat, termasuk pengendalian pencemaran udara, pengawasan sumber emisi, serta perlindungan masyarakat rentan,” tegas Deni, Minggu (11/10/2026).
Dari data yang ada kata Deni, rata-rata kasus ISPA di Jatim sepanjang 2026 mencapai 151.750 kasus per bulan. Meski di 38 Kota Kabuoaten di Jatim kasus Ispa alami kenaikan akhir-akhir ini, ada lima wilayah tercatat menyumbang laporan kasus Ispa tertinggi, yakni Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, Kota dan Kabupaten Malang.
Peningkatan kasus Ispa, tidak bisa dihindarkan dengan kemarau kering ekstrem. Data BMKG menunjukkan 75,7 persen Zona Musim (ZOM) di Jatim mengalami curah hujan di bawah normal.
Minimnya hujan dinilai memperburuk polusi udara karena pencucian polutan atmosfer terhenti, sementara debu jalanan, emisi kendaraan, asap industri, hingga pembakaran terbuka kian tak terkendali.
”Jangan sampai masyarakat terus diminta berobat ketika sakit, sementara sumber pencemar udara tidak ditangani secara serius,” ujar Deni.
Tekanan akibat lonjakan kasus ISPA kini juga mulai membebani fasilitas kesehatan daerah. Salah satunya terjadi di RSUD dr. Darsono, Kabupaten Pacitan. Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit tersebut melonjak drastis hingga 88 persen pada Oktober 2026 (172 dari 196 tempat tidur terisi). Padahal, kondisi normal BOR rumah sakit ini berkisar di angka 55–60 persen.
Direktur RSUD dr. Darsono, dr. Johan Tri Putranto, membenarkan adanya kenaikan signifikan kunjungan pasien. Dengan adanya tambahan kasus ispa akhir akhir ini, rawat jalan, IGD, hingga rawat inap sejak pertengahan Agustus lalu alami kenaikan.
Deni mengingatkan agar Pemprov Jatim dan Dinkes segera memantau BOR seluruh rumah sakit se-Jatim secara berkala untuk mencegah kelumpuhan fasilitas kesehatan.
“Rumah sakit harus dipastikan siap menghadapi lonjakan pasien. Pantau keterisian tempat tidur, ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, serta kesiapan IGD. Jangan tunggu pelayanan terganggu baru bertindak,” tegas Sekertaris DPD PDIP Jatim ini.
Sebagai solusi jangka panjang, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim mendorong Pemprov Jatim menciptakan sistem peringatan dini (early warning system) terintegrasi yang menggabungkan data kualitas udara (khususnya partikel halus PM2.5 dan PM10), perkiraan cuaca, titik panas (hotspot), dan tren kasus ISPA.
Data tersebut harus dibuka secara transparan kepada publik agar kelompok rentan—seperti anak-anak, lansia, dan penderita penderita penyakit bawaan—dapat mengantisipasi aktivitas luar ruang.
“Pemerintah harus hadir melalui kebijakan pencegahan yang nyata, data yang terbuka, dan layanan kesehatan yang siap. Keselamatan serta kesehatan warga harus menjadi prioritas utama,” pungkas Deni. (ari)

