Peringati HAN 2026, RSD Prof. Moeljono dan FPPI Surabaya luncurkan kampanye kesehatan mental anak laki-laki

Surabaya, MercuryFM – Peringati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, RSD Prof. dr. Moeljono Provinsi Jawa Timur berkolaborasi dengan DPC Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kota Surabaya meluncurkan kampanye edukatif bertajuk “AyahBunda, Anak Laki-Lakimu Butuh Kamu”.

Kampanye tersebut diluncurkan di Gedung Trividya RSD Prof. Dr. Moeljono, Jalan Menur, Surabaya. Kegiatan ini juga untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan mental anak laki-laki yang dinilai masih sering luput dari perhatian.

Kampanye ini mengajak orang tua untuk lebih peka terhadap kebutuhan emosional anak lakilaki. Selama ini, anggapan bahwa anak laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kesedihan sering kali membuat mereka memendam perasaan, kesulitan mengekspresikan emosi, hingga enggan bercerita ketika menghadapi masalah, termasuk perundungan.

Direktur RSD Prof. Dr. Moeljono, drg. Vitria Dewi, M.Si mengatakan sebagai bentuk komitmen, RSD Prof. dr. Moeljono mendukung kampanye yang diinisiasi DPC FPPI Kota Surabaya melalui penyediaan tenaga profesional serta edukasi kesehatan mental kepada masyarakat.

“Rumah sakit sebenarnya lebih bergerak di sisi kuratif. Kalau kami hanya menunggu pasien datang untuk diobati, rumah sakit tidak akan mampu. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana mencegah dan mengendalikan masalah itu sejak awal,” ujarnya.

Menurut Vitria, rumah sakit siap berkolaborasi dengan FPPI melalui berbagai kegiatan edukasi kepada masyarakat. Selain menghadirkan tenaga profesional, RSD Prof. Dr. Moeljono juga akan mengerahkan tim humas, media, hingga pemasaran untuk memperluas jangkauan kampanye.

Ia menyebut bentuk kolaborasi dapat berupa sosialisasi di Car Free Day, seminar, workshop, hingga forum diskusi kelompok (FGD). Ia menyampaikan, berdasarkan data rumah sakit, pasien laki-laki dengan gangguan kesehatan mental jumlahnya lebih banyak dibanding perempuan. Kasus tersebut meliputi skizofrenia, kecanduan gawai, dampak perundangan (bullying), hingga paparan pornografi pada anak.

Ia menambahkan, tekanan ekonomi, pendidikan, lingkungan, serta budaya yang menganggap laki-laki tidak boleh menangis atau mengungkapkan emosi menjadi faktor yang membuat banyak anak laki-laki memendam persoalan psikologis. Maka itu, Edukasi dan deteksi dini perlu diperluas agar gangguan kesehatan mental dapat dicegah sebelum berkembang menjadi lebih berat.

Sementara itu, Ketua FPPI Surabaya, Nenny Gunarso, mengatakan kampanye tersebut lahir dari keprihatinan masih minimnya perhatian terhadap kebutuhan emosional anak laki-laki.

“Selama ini perhatian kita lebih banyak tertuju pada anak perempuan. Padahal anak laki-laki juga membutuhkan ruang yang aman untuk didengar dan mengekspresikan perasaannya tanpa takut mendapat stigma,” kata Nenny.

Ia menuturkan, banyak anak laki-laki tumbuh dengan anggapan bahwa mereka tidak boleh menangis atau menunjukkan kelemahan. Akibatnya, mereka memilih memendam persoalan yang dihadapi hingga berdampak pada kesehatan mental.

Menurut Nenny, keluarga menjadi lingkungan pertama yang berperan membentuk kesehatan mental anak. Karena itu, orang tua diharapkan menjadi tempat pertama dan paling aman bagi anak untuk bercerita.

“Kalau di rumah anak tidak mendapatkan rasa aman, maka edukasi di sekolah atau pendampingan dari tenaga profesional tidak akan optimal. Orang tua harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk didengar,” ujarnya.

Kedua pihak berharap momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak, termasuk anak laki-laki, berhak memperoleh perhatian, ruang untuk didengar, serta dukungan keluarga demi tumbuh sehat secara fisik maupun mental. (ari)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist