Surabaya, MercuryFM – Ketika kita mendiagnosis keterbelahan institusional yang hari ini melanda republik, karena maraknya skandal mega korupsi (berita terakhir yang mengejutkan soal brankas 2 meter), pertanyaan paling krusial yang tersisa adalah: kemanakah arah perginya penyakit ini?
Di tengah jerat deindustrialisasi yang perlahan memiskinkan kelas menengah dan menghimpit masyarakat bawah, kita tidak boleh sekedar menjadi penonton pasif dari teater absurd para elite.
Kita harus menghitung prognosisnya, membaca arah angin, sembari menengok lembaran sejarah dunia untuk mencari tahu, adakah bangsa yang berhasil lolos dari labirin distopia semacam ini?
Secara sosiologi politik, perjalanan penyakit “deep state” dan korupsi sistemik di negeri ini tampaknya akan tertahan pada skenario ‘saling sandera abadi’.
Ini adalah kondisi di mana keterbelahan tidak sampai menghancurkan negara secara fisik, melainkan membuatnya sakit menahun.
Siklus saling intip brankas komoditas strategis, pengumpulan ‘kompromat’ (materi penyanderaan politik), dan friksi horizontal antar-aparat akan terus diwariskan dari satu transisi kekuasaan ke transisi berikutnya.
Penegakan hukum berubah menjadi komoditas teatrikal—tajam ke arah faksi yang sedang kalah, namun mendadak tumpul ketika berhadapan dengan faksi yang memegang kendali atau bersedia berkompromi.
Namun sejarah dunia mencatat bahwa sekorup apa pun sebuah sistem, ia selalu menyimpan benih-benih titik jenuhnya sendiri.
Perubahan besar sering kali lahir bukan karena para elite mendadak insyaf, melainkan karena sistem tersebut telah mencapai batas nadir yang mengancam eksistensi mereka sendiri.
Kita layak belajar dari beberapa negara yang sempat terperosok ke dalam kegelapan serupa, namun berhasil merangkak keluar menembus fajar baru.
Tengoklah Amerika Serikat pada akhir abad ke-19, sebuah era yang dikenal sebagai ‘The Gilded Age’ (Zaman Keemasan Semu). Kala itu, AS dikuasai oleh jaringan mafia politik termediatisasi seperti ‘Tammany Hall’ di New York, di mana jabatan publik, kepolisian, dan hukum dikendalikan sepenuhnya oleh para ‘Robber Barons’ (konglomerat industri rakus).
AS kala itu persis seperti cermin distopia kita hari ini. Institusi negara didekte oleh kepentingan privat. Namun, pembusukan itu memicu lahirnya ‘The Progressive Era’ di awal abad ke-20.
Didorong oleh gerakan literasi publik yang masif dari para jurnalis investigatif (yang dijuluki ‘muckrakers’), kelas menengah yang muak, serta dorongan politik dari Presiden Theodore Roosevelt, AS merombak total sistem birokrasinya melalui undang-undang antikorupsi dan pemutusan rantai patronase politik.
Atau lihatlah tetangga kita, Hong Kong, pada era 1960-an hingga awal 1970-an. Saat itu, korupsi di Hong Kong bersifat endemik dan terlembaga, terutama di tubuh kepolisiannya. Sindikat korupsi mengendalikan bisnis gelap dari judi hingga narkoba.
Puncaknya terjadi ketika seorang Kepala Polisi melarikan diri setelah ketahuan menimbun kekayaan luar biasa di dalam “brankas” ilegalnya. Kemarahan publik pecah di tengah situasi sosial-ekonomi yang sulit.
Krisis legitimasi ini memaksa Gubernur Sir Murray MacLehose mengambil langkah radikal pada tahun 1974 dengan mendirikan ICAC (Independent Commission Against Corruption), sebuah lembaga independen yang memotong kompas jalur birokrasi korup dan langsung membersihkan institusi penegak hukum dari atas ke bawah.
Hong Kong bertransformasi dari salah satu kota terkorup menjadi salah satu pusat finansial paling bersih di dunia.
Dua contoh sejarah di atas memberikan kita satu kesimpulan penting, jalan keluar dari labirin ini selalu membutuhkan dua daya dorong yang bertemu di satu titik nadir.
Pertama, adanya tekanan dan gugatan moral yang konsisten dari masyarakat sipil serta kelas menengah yang melek literasi.
Kedua, adanya momentum krisis yang memaksa faksi-faksi elite yang saling bertikai untuk menyepakati sebuah “gencatan senjata” dan membangun aturan main baru yang lebih bersih demi menyelamatkan sistem agar tidak runtuh total.
Selama hulu masalahnya, yaitu kebutuhan dana politik yang mahadahsyat, masih disuplai dari brankas-brankas gelap komoditas strategis, maka prognosis kita akan tetap berada pada fase sakit menahun.
Namun, sejarah membuktikan bahwa tidak ada brankas yang terlalu kokoh untuk tidak bisa dibongkar, dan tidak ada bayonet yang cukup kuat untuk menahan laju perubahan ketika sebuah bangsa sudah jenuh dengan sandiwara.
“Sejarah tidak mencatat bangsa yang runtuh karena elitenya korup, sejarah hanya mencatat bangsa yang punah karena rakyatnya memilih menjadi penonton yang pemaaf di tengah pembusukan negaranya sendiri.” (ari)

