Surabaya, MercuryFM – Bonus demografi Indonesia dapat berubah menjadi ancaman serius apabila tidak diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini kembali diingatkan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono saat menjadi pembicara dalam
Rapat Dewan Pakar IKA Unair, di Gedung Rektorat Unair, Selasa, (23/06/26) malam
“Bonus demografi harus dibarengi dengan kompetensi. Kalau tidak akan menjadi beban, dan bisa menjadi bencana,” ujar AHY dalam pemaparannya.
Menurutnya, Indonesia saat ini berada pada fase penting karena tengah menikmati bonus demografi. Namun, peluang tersebut tidak akan berlangsung selamanya.
“Kalau sudah tertutup, kita kembali akan menjadi negara yang jalan di tempat. Kalau kita tidak bisa mengoptimalkan bonus demografi yang akan tutup kurang lebih di periode tahun 2040-an. Kita akan mengalami setelah itu (fase) penuaan dan mungkin berkurang jumlah penduduk,” ungkapnya.
Ketua Dewan Pakar Ikatan Alumni (IKA) Unair itu menjelaskan, setelah masa tersebut Indonesia berpotensi menghadapi tantangan penuaan penduduk seperti Jepang dan beberapa negara lainnya.
Karena itu, AHY meminta perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam mencetak SDM.
Dirinya menekankan pentingnya sinergi link and match antara dunia pendidikan dan industri. Sebab menurutnya, sejauh ini perguruan tinggi kerap belum sejalan dengan kebutuhan nyata di dunia kerja.
“Dalam disertasi yang saya susun berjudul Kepemimpinan Transformasional dan Orkestrasi Sumber Daya Manusia Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045, saya menemukan bahwa di Indonesia ini seringkali perguruan tingginya tidak langsung bisa menjawab kebutuhan industri dan belum sesuai potensi di daerah masing-masing,” bebernya.
Ketua Umum Partai Demokrat itu mencontohkan wilayah dengan potensi pertambangan seperti Kalimantan seharusnya didukung kampus yang mampu menjawab kebutuhan industri tersebut. Begitupun dengan Bali yang unggul di bidang pariwisata dan hospitality.
“(Di Bali) harusnya kampusnya kuat untuk menjawab kebutuhan dan tantangan pariwisata,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, AHY mengungkapkan bahwa sejumlah indikator pembangunan manusia Indonesia masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan pemeringkatan Human Development Index (HDI), posisi Indonesia saat ini berada di peringkat ke-113 dunia dan ke-6 di kawasan ASEAN.
Bahkan, posisi Indonesia kini telah disalip oleh Vietnam yang dalam 10 tahun terakhir konsisten membenahi indeks pembangunan manusianya.
“Kita tidak boleh tinggal diam,” serunya.
Ia menekankan empat faktor utama untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yakni kualitas SDM, produktivitas, inovasi, dan menciptakan pemimpin yang kompeten.
Pihaknya mendorong perguruan tinggi, termasuk UNAIR, mengambil peran lebih besar dalam mencetak pemimpin dan talenta unggul yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
“Tidak ada resep ajaib. Kuncinya kualitas SDM, produktivitas, inovasi, dan leadership,” tegasnya. (ari)

