Surabaya, MercuryFM – Aku duduk di kursi plastik warung tegal, menghitung nasi sepiring, tempe goreng sepotong dan segelas teh panas yang sudah diaduk empat kali supaya rasa manisnya merata, seperti janji para politikus
Ada cicilan rumah yang terus menagih. Padahal rumah itu hanya jadi tontonan tetangga. Karena aku berangkat pagi pulang malam
cuma bisa memandangnya dari luar, seperti memandang layar televisi
“Apakah ini hidup?”
tanyaku pada dompet yang semakin kurus
“Atau hanya sekadar tidak mati?”
Anakku minta seragam baru. istriku mengganti beras dengan jagung. Ibuku berhenti berobat ke puskesmas.
katanya, “Biar Tuhan yang memulihkan”
Di minimarket, ibu-ibu saling berpandangan lalu diam-diam menyembunyikan telur di keranjang, satpam melihat, tapi ikut-ikut diam karena perutnya juga ikut berbicara
Di stasiun kereta, karyawan berdasi tidur berdiri mimpinya jatuh terus ke dalam lubang KPR. Bangun-bangun, kereta sudah lewat
seperti masa mudanya.
Wahai para ekonom dengan grafik melambung, coba tukar diplomasimu dengan segenggam beras rasakan bagaimana rasanya bertahan. Padahal berhenti bernapas pun kadang terasa lebih menguntungkan.
Maka kubilang, ini bukan hidup. Ini puisi yang gagal mencari rima. Ini lagu yang putus di tengah nada. Ini roti yang sudah berjamur
tapi masih juga dimakan
Karena memang ada hidup tapi rasanya tanpa kehidupan. (ari)
