Surabaya, MercuryFM – Di tengah dominasi film aksi dan horor di layar bioskop, Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan hadir membawa suasana berbeda. Film drama keluarga garapan sutradara Kuntz Agus ini menawarkan cerita yang hangat, personal, sekaligus emosional tentang hubungan anak dan orang tua, kenangan masa kecil, hingga rasa takut kehilangan orang yang paling dicintai.
Melalui program screening spesial bertajuk Nonton Duluan, film produksi Rapi Films, Screenplay Films, dan Vortera Studios tersebut diputar lebih awal di 40 kota Indonesia pada 9–10 Mei 2026. Surabaya menjadi salah satu kota yang mendapat kesempatan menyaksikan film ini lebih awal di XXI Tunjungan Plaza 3, Minggu (10/5/2026).
Sejak sebelum pemutaran dimulai, antusiasme penonton sudah terasa memenuhi area bioskop. Mayoritas datang bersama teman, pasangan, hingga keluarga. Beberapa bahkan mengaku penasaran karena film ini ramai dibicarakan di media sosial sebagai drama keluarga yang “siap bikin nangis”.
Namun di balik hype tersebut, Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan ternyata bukan sekadar film sedih. Film berdurasi sekitar 1 jam 53 menit ini justru terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.
Cerita berpusat pada Kesha, diperankan Yasmin Napper, seorang mahasiswi film yang hidup dalam keluarga hangat dan sederhana. Kehidupan itu perlahan berubah ketika sang ibu, Yuke yang diperankan Lulu Tobing, mulai mengalami penurunan ingatan akibat Alzheimer.
Alih-alih menghadirkan drama yang berlebihan, film ini justru menyajikan detail-detail kecil yang terasa familiar: ibu yang menyiapkan makanan, percakapan sederhana di meja makan, nostalgia masa kecil, hingga momen pertengkaran kecil antar saudara yang diam-diam menjadi kenangan paling dirindukan.
Nuansa visual yang hangat dipadukan dengan dialog natural membuat penonton mudah merasa dekat dengan setiap karakter. Tidak sedikit yang terlihat terdiam sepanjang film berlangsung, terutama saat cerita mulai memasuki konflik emosional di pertengahan hingga akhir.
Beberapa penonton bahkan tampak menyeka air mata usai lampu studio kembali menyala.
“Awalnya aku kira cuma film keluarga biasa. Tapi ternyata dalam banget. Banyak adegan yang bikin ingat rumah dan orang tua,” ujar Fikri, salah satu penonton usai screening.
Menurutnya, film tersebut berhasil menghadirkan rasa rindu terhadap momen-momen sederhana yang sering terlupakan karena kesibukan sehari-hari.
“Habis nonton rasanya pengin langsung pulang, peluk mama papa. Kadang kita nggak sadar kalau kenangan kecil itu ternyata paling berharga,” katanya.
Hal serupa juga dirasakan banyak penonton muda lainnya. Di media sosial, film ini mulai ramai dibicarakan karena dianggap relate dengan kehidupan generasi sekarang yang sering terlalu sibuk mengejar banyak hal hingga lupa menikmati waktu bersama keluarga.
Tema tentang caregiving, kesehatan mental keluarga, dan kehilangan ingatan juga dikemas secara ringan sehingga tetap nyaman dinikmati berbagai usia. Film ini tidak hanya mengajak penonton menangis, tetapi juga merefleksikan pentingnya menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat sebelum semuanya berubah menjadi kenangan.
Dari sisi lifestyle, Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan menjadi representasi film keluarga modern yang tidak menggurui, tetapi mampu menyentuh lewat pengalaman-pengalaman sederhana yang dekat dengan keseharian penonton urban saat ini.
Program Nonton Duluan sendiri menjadi bagian dari rangkaian promosi menuju penayangan resmi film di seluruh bioskop Indonesia pada 13 Mei 2026 mendatang.
Dengan chemistry emosional para pemain, visual sinematik yang hangat, serta cerita yang relevan dengan kehidupan banyak orang, Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan diprediksi menjadi salah satu film drama keluarga paling emosional tahun ini. (lam)
