Surabaya, MercuryFM – Dominasi luar biasa ditunjukkan tim basket putri Universitas Surabaya (Ubaya) di semifinal Campus League 2026 Regional Surabaya. Menghadapi Universitas Brawijaya (UB), Ubaya tampil nyaris tanpa celah dan menang telak 105-19 di GOR Basket Unesa, Selasa (28/4/2026).
Namun di balik kemenangan mencolok itu, pelatih Ubaya, Wellyanto Pribadi, justru mengangkat isu yang lebih besar: menurunnya kualitas kompetisi basket antar kampus, khususnya di Jawa Timur.
Alih-alih puas, Wellyanto menilai skor besar tersebut belum mencerminkan kekuatan sesungguhnya timnya. Ia bahkan menyebut Ubaya belum benar-benar diuji.
“Mungkin karena belum ketemu lawan yang benar-benar kuat. Permainan kami juga masih jauh dari target,” ujarnya usai laga.
Ubaya memang tampil dominan sejak awal. Mereka menutup paruh pertama dengan keunggulan 47-14 dan terus menjaga intensitas hingga akhir pertandingan. Evelyn Fiyo menjadi motor serangan dengan kontribusi 18 poin, mempertegas jarak kualitas kedua tim.
Meski demikian, Wellyanto tetap menyoroti sejumlah kelemahan mendasar, terutama di lini pertahanan yang dinilai masih rapuh.
“Banyak kebobolan karena kurang fokus di belakang. Itu langsung kami evaluasi,” tegasnya.
Tak hanya aspek teknis, adaptasi terhadap penggunaan bola baru juga disebut memengaruhi akurasi tembakan para pemain. Namun, bagi Wellyanto, persoalan yang lebih mendesak justru berada di luar lapangan.
Ia melihat adanya tren penurunan kualitas basket kampus dalam beberapa tahun terakhir, yang salah satunya dipicu minimnya frekuensi kompetisi.
“Dulu pertandingan bisa lebih sering. Sekarang mungkin setahun sekali. Ini berpengaruh pada perkembangan pemain,” ungkapnya.
Pandangan ini berbanding lurus dengan realita di lapangan. Meski diikuti 17 perguruan tinggi dengan total 24 tim, kesenjangan kualitas masih terlihat jelas. Bahkan, kemenangan besar seperti yang diraih Ubaya menjadi gambaran nyata belum meratanya level kompetisi.
Di sisi lain, kehadiran tim-tim luar Jawa seperti Universitas Ciputra Makassar dan Universitas Cendrawasih memberi warna tersendiri. Keduanya sukses menembus final sektor putri dan putra, membuktikan peta persaingan mulai meluas.
Head of Competition Campus League, Dave Leopold, menilai kondisi ini sebagai fase awal yang wajar dalam sebuah liga baru. Ia menekankan bahwa Campus League dirancang sebagai fondasi jangka panjang.
“Ini proses pembinaan. Dalam 3 sampai 5 tahun ke depan, kualitas tim akan lebih merata dan kompetitif,” jelasnya.
Sementara itu, kapten Ubaya Putri, Mayviana Lysandra Tandiono, memilih fokus pada pembenahan tim jelang final menghadapi Universitas Ciputra Makassar. Ia menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan dan tidak meremehkan lawan.
“Kami harus tetap saling percaya dan fokus. Evaluasi terus kami lakukan,” katanya.
Dengan performa impresif sejauh ini, Ubaya memang difavoritkan. Namun seperti diingatkan sang pelatih, tantangan terbesar bukan hanya lawan di lapangan, melainkan konsistensi dan mental bertanding.
Di tengah euforia kemenangan besar, satu pesan justru mencuat lebih kuat: tanpa kompetisi yang rutin dan merata, dominasi seperti ini bisa jadi bukan tanda kekuatan, melainkan sinyal adanya masalah yang lebih dalam di ekosistem basket kampus. (lam)
