Surabaya, MercuryFM – Hari pertama UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) langsung diwarnai temuan serius. Di balik pelaksanaan ujian yang diklaim lancar, panitia mengungkap dugaan praktik perjokian dengan modus pemalsuan dokumen, mengincar program studi bergengsi seperti kedokteran.
Temuan ini bukan kebetulan. Unesa sejak awal sudah memetakan titik rawan kecurangan dan memperketat pengawasan, terutama pada program studi dengan tingkat persaingan tinggi. Hasilnya, indikasi pelanggaran yang tergolong rapi sekalipun tetap terendus.
Wakil Rektor I Unesa, Martadi, menegaskan bahwa sistem pengawasan berlapis menjadi kunci.
“Kecurangan sekecil apa pun bisa kami deteksi. SOP kami jalankan ketat sejak awal hingga akhir ujian,” ujarnya.
Kasus yang ditemukan menunjukkan pola yang terstruktur. Pelaku diduga menggunakan ijazah dengan nama asli, namun foto yang berbeda—indikasi kuat adanya manipulasi identitas. Tak hanya itu, dokumen kependudukan yang digunakan juga terindikasi palsu. Modus ini mengarah pada upaya sistematis untuk menyusup ke dalam seleksi nasional melalui celah administrasi.
Menariknya, panitia tidak langsung menghentikan peserta di tengah ujian. Proses tetap dijalankan hingga selesai untuk menjaga kondusivitas, sebelum pelaku diamankan dan diperiksa lebih lanjut. Langkah ini menunjukkan pendekatan tegas namun terukur.
Verifikasi pun dilakukan cepat. Pihak kampus langsung berkoordinasi dengan sekolah asal untuk mencocokkan data ijazah. Hasilnya menguatkan dugaan pemalsuan. Kasus ini kemudian diteruskan ke panitia pusat UTBK-SNBT dan aparat kepolisian.
Di sisi lain, Unesa mencoba menutup semua celah. Pemeriksaan berlapis, pembatasan barang, sistem pengamanan tas, hingga penggunaan sandal khusus diterapkan demi mencegah alat curang tersembunyi. Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa praktik kecurangan dalam UTBK bukan lagi sekadar aksi individu, tetapi bisa melibatkan skema yang lebih kompleks.
Temuan hari pertama ini menjadi alarm keras: persaingan masuk perguruan tinggi negeri tak hanya ketat, tetapi juga rawan disusupi cara-cara curang. Namun di saat yang sama, langkah cepat Unesa memberi sinyal bahwa celah tersebut tidak dibiarkan terbuka.
Di tengah tekanan dan ambisi tinggi para peserta, satu pesan ditegaskan—integritas bukan sekadar slogan, tetapi garis batas yang tidak bisa ditawar dalam seleksi nasional. (lam)

