Surabaya, MercuryFM – Kebijakan baru Beasiswa Pemuda Tangguh Pemkot Surabaya menuai kritik keras dari Forum Komunikasi Pemuda Tangguh Surabaya (Forkompeta). Dalam audiensi ke Komisi D DPRD Surabaya pada Senin, 26 Januari 2026, Forkompeta menilai skema baru beasiswa justru menggeser beban negara ke pundak mahasiswa.
Perwakilan Forkompeta, Akmal Faiz, menyebut pemotongan bantuan UKT sebesar Rp2,5 juta tanpa kejelasan mekanisme membuat mahasiswa penerima beasiswa terancam tidak mampu melanjutkan studi.
“Sebelumnya UKT ditanggung penuh. Sekarang mahasiswa dipaksa menutup sisa biaya sendiri. Kalau tidak sanggup, pilihannya cuma dua: cuti kuliah atau cari pinjaman online. Ini bukan solusi, ini jebakan sosial,” tegasnya.
Tak hanya UKT, komponen bantuan lain juga dipangkas. Uang saku semester Rp750 ribu dihapus, sementara bantuan bulanan turun dari Rp500 ribu menjadi Rp300 ribu. Padahal, banyak penerima berasal dari keluarga rentan ekonomi yang sepenuhnya bergantung pada skema beasiswa tersebut.
Forkompeta juga mengkritik absennya transparansi pemerintah dalam merumuskan kebijakan. Hingga kini, tidak ada kejelasan apakah potongan Rp2,5 juta berlaku per semester, per tahun, atau hanya bagi penerima baru. “Kebijakan ini ambigu, tapi dampaknya konkret: mahasiswa terancam putus kuliah,” ujar Akmal.
Forkompeta mendesak Komisi D DPRD Surabaya tidak sekadar menerima laporan, tetapi memaksa Pemkot mengevaluasi total kebijakan tersebut. Mereka menegaskan, beasiswa seharusnya menjadi alat mobilitas sosial, bukan instrumen seleksi alam yang menyingkirkan mahasiswa miskin dari bangku pendidikan. (lam)

