Surabaya, MercuryFM – Penguatan kompetensi generasi muda sangat diperlukan saat ini. Ini dilakukan agar generasi muda mampu bersaing di pasar kerja yang semakin ketat saat ini.
Ini dikatakan anggota DPRD Jawa Timur (Jatim) Daerah Pemilihan (Dapil) Surabaya, Jordan Batara Goa, saat menggelar reses anggota DPRD Jatim di Setro Baru Utara, Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari, Kamis(20/22/25) malam.
Dalam dialog dengan warga khususnya anak anak muda yang hadir, muncul keluhan meraka terkait kesulitan mendapatkan pekerjaan. Yordan menekankan penguatan kompetensi. Dan ini bisa didapatkan anak-anak muda dengan memanfaatkan fasilitas pelatihan gratis yang disediakan pemerintah.
“Kalau kita mau mencari tempat-tempat pelatihan, ya itu bisa di Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Balai Latihan Kerja (BLK) Surabaya di Dukuh Menanggal. Ini menyediakan paket-paket pelatihan yang gratis, ada uang sakunya, ada sertifikatnya, tetapi memang jika ingin mendaftar banyak harus ada seleksi,” ujar Yordan.
Selain mengikuti pelatihan, Yordan juga mendorong generasi muda harus memiliki mental kuat dan kesiapan menghadapi kompetisi yang semakin berat. Menurutnya, persaingan di Surabaya tidak hanya datang dari warga lokal, tetapi juga dari para pencari kerja asal luar daerah.
“Apalagi yang menjadi saingan nanti tidak cuma anak-anak di Surabaya, tapi karena Surabaya ini kota besar, orang-orang di luar Surabaya pun juga akan berbondong-bondong ke Surabaya untuk mencari pekerjaan,” tegas Yordan.
Yordan mengingatkan agar anak muda Surabaya tidak terlena dengan kenyamanan tinggal bersama orang tua yang kerap membuat mereka kurang bersemangat bersaing. Karena itu, ia mendorong motivasi dan kesiapan mereka sejak masa sekolah.
“Karena biasanya masih ikut orang tuanya, seringkali terlena dan kalah bersaing dengan anak-anak dari daerah,” tutur anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim tersebut.
Dalam kesempatan itu, Yordan juga berbicara mengenai pentingnya memulai persiapan kewirausahaan sejak dini, khususnya bagi siswa SMK.
“Bagi yang punya keinginan untuk berwirausaha supaya mereka sudah mulai berlatih sejak mereka ada di SMK. Jadi jangan tunggu lulus baru kemudian belajar wirausaha karena sebetulnya di SMK juga ada pelajaran tentang wirausaha,” jelasnya.
“Itu harus dimanfaatkan maksimal supaya mereka siap berwirausaha ketika mereka lulus dari SMK,” imbuh Yordan.
Plt ketua DPC PDIP Kota Surabaya ini juga menyoroti peran teaching factory (TEFA) sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan industri. Menurutnya, program ini sangat penting untuk membentuk lulusan SMK yang kompeten.
“Kalau di SMK itu ada teaching factory (TEFA). Teaching factory itu membawa dunia kerja masuk ke dalam lingkungan SMK. Jadi kalau magang berarti anak-anak SMK yang keluar dan bekerja di dunia industri, tapi kalau teaching factory, dunia industri yang dibawa masuk SMK, anak-anak untuk berlatih di situ,” terangnya.
Menurut dia, pengoptimalan TEFA harus menjadi perhatian serius agar siswa SMK benar-benar siap kerja maupun berwirausaha ketika lulus. Bahkan, ia menilai sekolah perlu melakukan evaluasi apabila lulusan masih kesulitan memperoleh pekerjaan atau membuka usaha.
“Kalau sekian bulan setelah selesai SMK itu belum bisa wirausaha atau bisa bekerja, maka mestinya itu harus melakukan intropeksi. Apa yang salah di kurikulum, apa yang kurang, apa yang harus diperbaiki, sehingga jangan sampai ada anak lulusan SMK yang nganggur,” pungkasnya. (ari)

