Catatan Hari Olahraga Nasional, Menakar Kebugaran dan Pembinaan Olahraga di Jawa Timur

Oleh: Irwan Setiawan  Pegiat Olahraga di Kota Surabaya,  Anggota DPRD Jatim 2009 - 2014 dan 2014 - 2019

Surabaya, MercuryFM – Setiap 9 September, bangsa Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi refleksi atas kondisi kebugaran, partisipasi olahraga, hingga arah pembinaan atlet di tanah air, termasuk di Jawa Timur.

 

Perlunya Peningkatan Kebugaran Jasmani

Data Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2024 yang dirilis Kementerian Pemuda dan Olahraga menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. IPO nasional naik dari 0,327 (2023) menjadi 0,334 (2024). Indeks Partisipasi Berolahraga meningkat dari 0,254 menjadi 0,263, dan Indeks Kebugaran Jasmani naik dari 0,179 menjadi 0,196.

Kendati demikian, tantangan masih besar. Sekitar 55,5 persen masyarakat Indonesia berada dalam kategori kebugaran sangat rendah, sementara hanya 6,3 persen yang masuk kategori “baik ke atas”. Selain itu, Indeks Performa justru menurun dari 0,172 menjadi 0,161, menandakan masih adanya ketimpangan antarprovinsi, terutama setelah munculnya provinsi-provinsi baru di Papua.

Khusus Jawa Timur, partisipasi olahraga masyarakat perlu peningkatan, saat ini angkanya baru mencapai 22,4 persen, jauh di bawah rata-rata nasional 35,4 persen. Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperluas akses olahraga dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bergerak.

Dalam perspektif teori perilaku kesehatan, seperti Health Belief Model (HBM), seseorang akan terdorong berolahraga bila mereka memahami manfaatnya dan hambatan yang ada dapat diminimalisir. Karena itu, edukasi publik dan penyediaan fasilitas olahraga publik yang merata menjadi kunci.

 

Afirmasi Anggaran Kesehatan dan Olahraga

Pada Perubahan APBD Jawa Timur 2025, sektor kesehatan memperoleh alokasi sebesar Rp6,43 triliun, naik dari Rp5,9 triliun pada tahun sebelumnya. Alokasi tersebut masih fokus besar pada layanan kesehatan kuratif. Namun, jika mengacu pada teori cost-effectiveness, investasi pada program promotif dan preventif, termasuk olahraga, akan jauh lebih menguntungkan dalam jangka panjang.

Biaya yang dikeluarkan untuk mendorong gaya hidup sehat dan aktivitas fisik dapat mengurangi beban pengeluaran akibat penyakit tidak menular seperti hipertensi, obesitas, dan diabetes. Adapun anggaran khusus olahraga di Jawa Timur disalurkan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga serta KONI untuk pembinaan atlet, pembangunan sarana, dan penyelenggaraan kompetisi.

Tantangan terbesarnya adalah pemerataan. Sejumlah daerah masih perlu peningkatan fasilitas olahraga publik, padahal menurut teori equity in health and sport, setiap warga berhak memperoleh akses yang sama.

Prioritas Pembinaan Olahraga: Prestasi dan Rekreasi

Pembinaan olahraga di Jawa Timur dapat dilihat dari dua dimensi. Pertama, olahraga prestasi. Jatim dikenal sebagai salah satu gudang atlet nasional. Melalui pendekatan long-term athlete development (LTAD), pembinaan usia dini dilakukan secara berjenjang untuk memastikan keberlanjutan prestasi.

Kedua, olahraga rekreasi dan kebugaran masyarakat. Inilah tantangan terberat. Partisipasi masih rendah, terutama di kalangan perempuan dan kelompok usia produktif yang banyak terjebak gaya hidup sedentari. Padahal, teori lifespan physical activity menegaskan olahraga yang dilakukan rutin sejak muda hingga tua mampu meningkatkan kualitas hidup sekaligus memperpanjang usia produktif.

Momentum Haornas untuk Perubahan

Hari Olahraga Nasional seharusnya menjadi titik balik bagi Jawa Timur Untuk meningkatkan  partisipasi masyarakat dalam olahraga dan meningkatkan indeks kebugaran. Selain ada tantangan juga ada peluang besar yaitu anggaran kesehatan yang meningkat, prestasi atlet yang terus lahir, serta kesadaran publik yang terus tumbuh.

Beberapa langkah yang bisa diperkuat antara lain Memperbesar porsi anggaran promotif-preventif melalui olahraga, Menyediakan fasilitas olahraga publik secara merata, termasuk di desa-desa, Menghidupkan kembali kompetisi lokal dan program olahraga komunitas, dan Mengangkat figur atlet Jatim sebagai inspirasi gaya hidup sehat bagi masyarakat.

Sejalan dengan pepatah kesehatan: “Prevention is better than cure”. Menjadikan olahraga sebagai budaya, Jawa Timur tidak hanya akan melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga membentuk masyarakat yang lebih sehat, bugar, produktif, dan berdaya saing. Semoga!!(ari)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist