Surabaya, MercuryFM – Indonesia di usia 80 tahun kemerdekaan telah mencapai banyak kemajuan: pertumbuhan ekonomi yang stabil, infrastruktur yang membaik, dan diplomasi yang diperhitungkan di dunia internasional. Namun tantangan juga masih besar—ketimpangan sosial, pengangguran, kerusakan lingkungan, dan potensi perpecahan akibat polarisasi politik.
Jawa Timur, dengan penduduk lebih dari 42 juta jiwa (BPS 2024), menjadi provinsi penopang ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonominya 5,3% di tahun 2024, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Kontribusi utama datang dari sektor perdagangan, industri pengolahan, dan pertanian. UMKM di Jawa Timur menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi 57% PDRB provinsi.
Namun, tantangan masih terasa. Tingkat kemiskinan di Jawa Timur tercatat 9.5 % (sekitar 3.9 juta jiwa). Kesenjangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, pengangguran anak muda, hingga persoalan lingkungan di wilayah pesisir menuntut solusi yang konkret dan kolaboratif. Bagaimana kita merefleksikan HUT Kemerdekaan RI ke-80 ini?
Perjuangan Tanpa batas
Kemerdekaan bukanlah garis akhir, melainkan proses panjang pembentukan bangsa (nation building) yang terus berjalan. Secara teoritis, Benedict Anderson dalam Imagined Communities menyebut bangsa sebagai komunitas terbayang—sebuah kesepakatan kolektif yang hidup karena adanya kesadaran bersama akan identitas, sejarah, dan tujuan.
Dalam konteks Indonesia, kesepakatan itu termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945, yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat. Inilah inti teori kedaulatan rakyat yang mengamanatkan bahwa negara harus hadir untuk melindungi, menyejahterakan, dan memberdayakan warga negara.
Selain itu, Bung Karno menekankan nation and character building sebagai pilar keberlangsungan negara. Kemerdekaan tidak akan bermakna jika rakyatnya kehilangan jati diri, moral, dan solidaritas. Nilai gotong royong, kejujuran, serta semangat rela berkorban harus terus dipelihara agar pembangunan tidak sekadar materi, tetapi juga membentuk karakter bangsa.
Kebersamaan sebagai Modal
Sejak menjabat sebagai anggota DPRD Jawa Timur dua periode, saya menyaksikan langsung bagaimana momen 17 Agustus menjadi ajang memperkuat kebersamaan. Di Gedung DPRD Jatim, upacara kemerdekaan berlangsung penuh khidmat.
Tradisi ini saya juga lakukan di DPW PKS Jawa Timur. Setiap tahun kami menggelar upacara kemerdekaan di halaman kantor DPW. Para kader, pengurus, dan simpatisan berdiri tegak, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mengheningkan cipta. Bagi saya, upacara bukan sekadar formalitas, tetapi pengingat bahwa kemerdekaan adalah amanah yang menuntut aksi nyata.
Jawa Timur memiliki peran vital dalam sejarah kemerdekaan. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah simbol keberanian rakyat yang mempertahankan harga diri bangsa. Tidak hanya Surabaya, kota-kota seperti Malang, Madiun, Kediri, Jombang, hingga Banyuwangi memiliki jejak perlawanan yang mengakar.
Sejarawan Dr. Kuntowijoyo menulis, “Perjuangan rakyat Surabaya adalah bukti bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari keberanian mempertahankan kehormatan, meski harus menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.” Semangat ini harus menjadi inspirasi generasi sekarang—berani membela kebenaran, menolak ketidakadilan, dan bekerja bersama untuk kemajuan.
Kemerdekaan dan Tantangan Generasi Kini
Generasi sekarang tidak lagi memanggul senjata, tetapi medan juangnya berbeda: menghapus kemiskinan, memberantas korupsi, menjaga persatuan, dan membangun kemandirian ekonomi. Di Jawa Timur, ini berarti 1) Mengoptimalkan potensi daerah seperti pertanian di Madiun, Magetan, Bojonegoro; perikanan di Banyuwangi, Lamongan, dan Tuban; pariwisata di Malang, Batu, Banyuwangi; serta industri di Surabaya, Gresik, dan Pasuruan. 2). Memperkuat SDM melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan, terutama untuk generasi muda. 3). Menjaga lingkungan agar keberlanjutan ekonomi tidak merusak alam yang menjadi sumber kehidupan.
Kemerdekaan hanya bermakna jika rakyat merasakan manfaatnya dalam bentuk kesejahteraan, keadilan, dan keamanan.
Penutup
Peringatan kemerdekaan ke-80 harus menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan. Jawa Timur punya modal sosial, budaya, dan ekonomi yang besar untuk menjadi penggerak kemajuan nasional. Tantangannya adalah bagaimana seluruh elemen bergerak bersama, tanpa meninggalkan satu pun lapisan masyarakat.
Gubernur Jawa Timur pertama, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, pernah berpesan: “Kemerdekaan harus kita isi dengan membangun, karena merdeka hanyalah awal dari perjalanan panjang.”
Sebagaimana sering saya sampaikan dalam setiap upacara kemerdekaan di DPW PKS Jatim: “Merdeka adalah hak, menjaga dan mengisinya adalah kewajiban.” Mari kita isi kemerdekaan ini dengan kerja nyata—dari desa hingga kota, dari pantai utara hingga pegunungan selatan—untuk mewujudkan Jawa Timur yang maju, adil, dan menjadi penopang kuat bagi Indonesia yang berdaulat dan sejahtera. (ari)

