Surabaya, MercuryFM- Sejumlah aktivis yang tergabung dalam Promeg’96 (Pro Mega 1996) mendatangi Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya untuk menggelar audiensi, Senin (27/5).
Audiensi diterima langsung oleh Plt Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, Yordan M. Batara Goa, didampingi Sekretaris DPC Baktiono, serta Wakil Ketua DPC Sukadar dan Wimbo.
Dalam pertemuan tersebut, mereka mengklarifikasi sejumlah aduan yang diterima Posko Promeg’96 Jawa Timur terkait dugaan pelanggaran oleh oknum pengurus DPC lama.
Menurut laporan yang diterima Promeg’96, oknum yang dimaksud diduga menjanjikan pekerjaan outsourcing dan pekerjaan lainnya kepada kader dan masyarakat, namun tidak terealisasi. Bahkan, janji tersebut disertai pungutan dana yang jumlahnya tidak sedikit.
“Ini bukan sekadar janji pekerjaan. Ini menyangkut nominal dan banyak korban yang dirugikan atas pungli oleh oknum pengurus lama. Dan oknum tersebut meski sudah dibebastugaskan, belum ada pertanggungjawaban tegas,” ujar Agus Patminto, aktivis senior 27 Juli 1996 sekaligus Ketua DPD Promeg’96 Jawa Timur.
Agus menegaskan bahwa DPC PDIP Surabaya harus bersikap tegas dan menyelesaikan masalah secara tuntas. “Kalau menyelesaikan masalah itu, persoalan-persoalan yang ada harus tuntas, jangan setengah-setengah,” katanya kepada media usai pertemuan.
Ia juga mendorong agar DPC tidak ragu melaporkan ke aparat penegak hukum jika memang ada unsur pidana. “Kalau ada oknum yang merugikan partai, mencemarkan nama baik partai, ya harus berani dilaporkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Agus menyoroti kinerja Plt Ketua DPC yang masa tugasnya hanya tiga bulan. Ia menilai waktu tersebut harus dimaksimalkan untuk melakukan pembenahan struktural dan penegakan disiplin internal. “Ini momentum menguji ketegasan Plt. Kalau dalam waktu tiga bulan tidak bisa menyelesaikan persoalan ini, baik soal finansial maupun kelengkapan dewan, maka itu bisa dikatakan gagal,” ucapnya.
Ia juga menyesalkan adanya upaya menutup-nutupi kasus demi menjaga citra partai. Menurutnya, tindakan tersebut justru akan menjadi bom waktu bagi partai. “Yang merusak citra partai itu bukan pemberitaan, tapi pembiaran terhadap oknum yang seharusnya ditindak. Bahkan dia masih bercokol di pimpinan dewan, ini kan menambah masalah,” tandasnya.
Agus menekankan pentingnya reposisi fraksi agar Fraksi PDI Perjuangan kembali berdiri secara mandiri, tidak berkoalisi dengan partai lain seperti PAN. “Kita punya 11 kursi, kok malah bergabung dengan PAN yang cuma 3 kursi? Ini harus dikembalikan ke marwah dan kehormatan partai,” serunya.
Ditemui usai pertemuan, Wakil Ketua DPC PDIP Surabaya, Sukadar menyambut positif kehadiran Promeg’96. Ia menyebut, kedatangan mereka merupakan bagian dari silaturahmi dan penegasan bahwa Promeg’96 masih aktif di Jawa Timur, termasuk di Surabaya.
“Promeg’96 itu bagian dari sejarah partai, meskipun sejarah pinggiran. Tapi sejarah tetap sejarah. Mereka pernah berjuang bersama, dan sudah sepatutnya diberi ruang,” ujar Sukadar.
Ia juga mengungkap bahwa cikal bakal Promeg’96 berasal dari gagasannya sendiri. “Saya termasuk salah satu yang menggagas Promeg dulu. Jadi saya paham betul semangat kawan-kawan,” tambahnya.
Menurut Sukadar, dalam ideologi PDI Perjuangan, semua simpatisan dan elemen pendukung partai harus dirangkul dan difasilitasi, karena kekuatan partai ada pada soliditas dan keterbukaan terhadap aspirasi akar rumput. “Prinsip kami jelas, partai ini milik rakyat. Maka siapa pun yang berjuang untuk partai, harus dihargai, termasuk Promeg,” ucap Sukadar, yang kerap disapa Cak Kadar.
Terkait beberapa usulan dari Promeg, Cak Kadar menegaskan akan menjadi catatan pengurus DPC. “Bukan tuntutan, tapi usulan. Bagus, akan kita jadikan catatan khusus dalam langkah kita kedepan,” pungkas Sukadar. (Lam)

