Surabaya, MercuryFM – Keberadaan salah satu BUMD milik Pemprov Jawa Timur yakni PT Air Bersih Jatim (Perseroda) mendapat sorotan Komisi C DPRD Jatim. Pasalnya, kinerja dari BUMD yang dibentuk tahun 2015 tersebut tak kunjung mendatangkan keuntungan maksimal bagi pendapatan daerah Jawa Timur.
“Masak jualan air ada ruginya. Gak mungkin rugi karena semua manusia membutuhkan air. Bahkan sekarang ini banyak pabrik berdiri di Jawa Timur sehingga bisa ditawarkan untuk pemenuhan air bersihnya,” ujar anggota komisi C DPRD Jawa Timur Lilik Hendarwati, Jumat 6 Desember 2024.
Menurut Lilik yang ironis selama beroperasi sampai saat ini mereka selalu merugi. Kinerja yang ada mereka kurang melakukan penyerapan terkait kinerjanya untuk melakukan penjualan air bersih.
“Ya imbasnya mereka akhirnya banyak hutang dan menumpuk. Ini kan bukti pula kinerja direksi tidak punya kreasi dan inovasi dalam mengelola BUMD,” ucapnya.
“Mereka ini keberadaannya sudah bertahun-tahun dan merugi. Tidak sekarang ini saja melainkan sudah merugi beberapa tahun lalu. Tampak direksi lemah dalam mengelola,” lanjut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Padahal lanjut Lilik, bila mereka manajemen kreatif seharusnya kerugian tidak terjadi. Banyak peluang-peluang yang bisa dilakukan dalam menjual air bersih. Mengingat di Jatim masih banyak perusahaan swasta maupun BUMN yang membutuhkan air bersih untuk aktifitas mereka.
“Ya mereka memang harus memenuhi kebutuhan air lima kota yakni Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik. Terkendala saluran rumah. Seharusnya kalau mereka inovatif kan hal itu bisa di selesaikan,” ujarnya.
“Seharusnya mereka bisa melakukan inovasi lain dalam menjual airnya. Apalagi saat ini masih banyak yang membutuhkan air. Lha ini yang tidak dilakukan mereka. Bukti management lemah dalam inovasi pengembangan usahanya,” lanjut Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim memperjelas.
Sekedar diketahui, selama ini PT Air Bersih Jatim (Perseroda) (PDAB) Jawa Timur pada mulanya telah diberikan kewenangan untuk mengelola SPAM Umbulan. Harapannya dapat melayani kebutuhan bagi 1,3 juta penduduk atau sebesar 31 ribu sambungan rumah baru di Provinsi Jawa Timur.
Namun kenyataannya sampai saat ini pemenuhan air tersebut belum berjalan. Ironisnya management hanya berfokus pada persoalan tersebut. Tidak ada inovasi ekspansi lain untuk mengembangkan usaha. Imbasnya sampai saat ini merugi.(ari)

