Di arena debat terakhir, Luluk tegaskan akan bangun KRL Madura dan kritik kegagalan Jatim mengelola sampah

Surabaya,MercuryFM- Calon gubernur nomor urut 1, Luluk Nur Hamidah berkomitmen untuk mengatasi kesenjangan wilayah di Jawa Timur, dengan fokus utama pada pembangunan Kereta Rel Listrik (KRL) di Madura Raya.

Luluk  diarena Debat ketiga Pilgub Jatim menegaskan pentingnya KRL di Madura untuk mempercepat mobilitas masyarakat dan mendukung perekonomian lokal.

“Program ini akan menjadi salah satu upaya konkret untuk meratakan pembangunan antara wilayah kota dan kabupaten. Kami punya komitmen ada KRL di Madura Raya,” tegas Luluk dalam pemaparannya di arena debat yang berlangsung di Grand City Mall, Senin (18/11/24).

Menurut Luluk, pembangunan infrastruktur tidak hanya soal proyek fisik, tetapi juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata termasuk hak atas kesehatan.

“Kami juga akan memastikan ketersediaan ambulans air dan tenaga medis yang cukup agar pelayanan kesehatan dapat diakses oleh semua warga Jawa Timur, terutama di daerah dengan infrastruktur terbatas,” jelasnya.

Luluk juga mengingatkan bahwa komitmen untuk mewujudkan perubahan tersebut membutuhkan kerja sama solid antar berbagai pihak.

“Maka kami memiliki komitmen bagaimana kita bisa membatasi jarak antara kesenjangan antara wilayah kabupaten dan kota,” tegasnya.

Dalam ksempatan debat ini pasangan yang diusung oleh PKB ini, juga menyoroti kegagalan Jatim lima tahun kemarin dalam pengelolahan sampah.

Luluk menilai bahwa pemerintahan Jawa Timur gagal dalam mengatasi masalah pengelolaan sampah yang semakin memburuk, meskipun telah ada regulasi yang mengatur hal ini.

Luluk menegaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk memastikan

“Mandat undang-undang nomor 18 tahun 2008 itu jelas bahwa pemda memiliki tanggung jawab agar pengelolaan sampah itu bisa dilaksanakan dengan baik,” ujar Luluk.

“Yang terjadi di Jatim, pengelolaan sampah tidak dilaksanakan dengan baik. Kenyataannya. pengelolaan sampah di Jawa Timur masih jauh dari harapan.

Luluk juga mengungkapkan fakta mencengangkan mengenai volume sampah yang dihasilkan di Jawa Timur. Berdasarkan data sistem informasi pengelolaan sampah nasional, provinsi ini memproduksi sampah sebanyak 5 hingga 6 juta ton per tahun.

Namun, kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola sampah hanya mampu menangani sekitar 2,6 juta ton sampah per tahun, yang menurut Luluk menunjukkan kegagalan dalam pengelolaan tersebut.

“Pentingnya solusi inovatif dalam pengelolaan sampah. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pemanfaatan sampah menjadi sumber energi. Kita harus memastikan bahwa sampah bisa menjadi energi,” tegasnya.

Seperti diketahui, Tema debat ketiga ini adalah “Akselerasi Pembangunan Infrastruktur, Interkoneksitas Kewilayahan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup untuk Mewujudkan Jawa Timur sebagai Episentrum Ekonomi Kawasan Timur Indonesia”.

Dalam debat pamungkas sebelum pelaksanaan Pilkada serentak 27 Nopember 2024, Ada tujuh orang panelis dalam debat ini, yakni Prof Dr H Abdul Chalik, M.Ag yang merupakan ahli politik lokal dan politik Islam UINSA. Prof Dr Bayu Dwi Anggono, ahli hukum tata negara, ilmu perundangan-undangan Universitas Jember.

Lalu, Prof Andi Kurniawan, S.Pi.,M.Eng.,D.Sc yang merupakan ahli teknologi Eko-Akuatik/eksplorasi sumberdaya dan lingkungan perairan Universitas Brawijaya. Dr Suko Widodo, ahli media dan komunikasi publik Universitas Airlangga.

Kemudian, Mohammad Zainul Aripin, M.Pd yang merupakan akademisi sekolah tinggi Ilmu Kesehatan Bahrul Ulum Jombang. Dr Bambang Sigit Widodo, M.Pd ahli kebijakan pendidikan berbasis data geospasial Universitas Universitas Negeri Surabaya.

Selanjutnya ada Yuventia Prisca Diyanti, S.Sos., M.Fil. yang merupakan ahli filsafat kritis dan komunikasi publik Universitas Negeri Malang. (ari)

 

 

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist