Jakarta, MercuryFM – Dua kereta api lokomotif uap yang berasal dari PG Sumberhardjo dan Pesantren Baroe telah tiba di Museum Perkeretaapian Stoomtrein Katwijk Leiden Valkenburg di Belanda. Lokomotif ini dulu dibuat di Belanda dan pada tahun 1920-an dikirim ke Hindia Belanda atau Indonesia dan digunakan untuk mengangkut tebu dan gula di pabrik gula. Acara penyambutan oleh museum perkerataapian tersebut dihadiri dan diterima langsung oleh Dhr. H.E. Mayerfass Duta Besar Republik Indonesia, , Cucu dari Croo & Braun serta H.E. Cornelis Visser Walikota Katwijk Leiden.
”Dua lokomotif yang tahun lalu tiba di Belanda sudah diiserahterimakan, ke Museum Perkeretaapian Stoomtrein Katwijk Leiden Valkenburg Belanda kemarin. Akan dilakukan restorasi total dan lima tahun lagi dikembalikan ke Indonesia dalam kondisi siap dipakai”, terang Aris Toharisman Direktur Hubungan Kelembagaan dan Manajemen Resiko SGN, Kamis (19/6/2024).
Upaya pengiriman hingga restorasi lokomotif tersebut ke Museum di Belanda merupakan bagian dari kerjasama antar dua negara bertujuan untuk memberikan edukasi sejarah. Kedua lokomotif yang dikirimkan berstatus pinjam pakai sehingga akan dikembalikan setelah dilakukan restorasi oleh pemerintah Belanda. Kondisi lokomotif tersebut rusak dan banyak komponen suku cadang yang hilang dan perlu dibuatkan baru.
”Ini menjadi terobosan besar untuk melestarikan sejarah, bukan saja sejarah tentang lokomotif uap melainkan sejarah dan saksi mata keemasan perkebunan nusantara”, lanjutnya.
Peter Soonius staf Marketing dan Komunikasi Museum Stoomtrein Katwijk Leiden Valkenburg menyebut, kedatangan lokomotif tersebut menjadi momentum besar bagi perkeretaapian Belanda dan telah berupaya selama 21 tahun untuk membawa kembali lokomotif tersebut untuk direnovasi.
“Kita bantu Indonesia me-restorasi lokomotif, setelah 21 tahun yang lalu, akhirnya dua lokomotif uap yang dulu dibangun di Belanda berhasil dibawa kembali ke Belanda untuk diperbaiki. Mereka berdua pernah dipakai di pabrik gula di Jawa”, jelasnya.
Lokomotif pertama adalah Kereta Uap Nomor 214 produksi 1928 yang pernah beroperasi di PG Pesantren Baru Kediri di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara X sedangkan Lokomotif kedua adalah Kereta Uap Nomor 9 produksi tahun 1925 milik PG Soemberhardjo Pemalang yang sebelumnya berada di bawah PT Perkebunan Nusantara IX. Saat ini pabrik gula BUMN milik PTPN dikelola oleh PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) sebagai sub holding gula PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Holding Perkebunan.(dan)

