Ini catatan FPDI Perjuangan untuk LKPJ Gubernur tahun 2022

Diantaranya ada beberapa materi yang dinilai perlu penjelasan yang lebih mendalam, salah satunya penurunan PDRB..

Surabaya, MercuryFM – Beberapa catatan di berikan Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim untuk  Pertanggungjawaban (LKPJ) gubernur tahun 2022, yang disampaikan saat sidang paripurna dengan agenda pandangan umum fraksi, Rabu (05/04/23), kemarin.

Juru bicara Fraksi PDIP DPRD Jatim Diana Amalia Verawatiningsih mengatakan, ada beberapa materi yang dinilai perlu penjelasan yang lebih mendalam.

Pertama, mengenai penurunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang sifatnya padat karya dari 11,48 persen pada 2021 menjadi 11,11 persen di 2022.

“Mohon penjelasan saudari Gubernur tentang hal ini,” ujar wanita yang akrab di panggil Sasa.

Fraksinya kata Sasa, juga menyoroti kinerja badan usaha milik daerah (BUMD) yang dinilai terkesan jalan sendiri-sendiri. Sehingga ini perlu sinergi antar BUMD.

Khusus untuk BUMD Bank Jatim, Fraksi PDIP lanjutnya, melihat penyaluran kredit ke sektor UMKM. Meskipun telah meningkat 26,24 persen pada 2022, namun masih jauh dibanding kredit konsumsi dan komersial.

Pada tahun 2022 kredit untuk UMKM mencapai Rp 6,34 triliun, sedangkan sektor konsumsi Rp 28,65 triliun dan komersial Rp 11,20 triliun.

“Ketimpangan komposisi kredit kepada UMKM ini sungguh perlu menjadi perhatian serius,” katanya.

Fraksi PDIP memurut Sasa juga memberikan catatan bahwa komposisi non-peforming loan (NPL) UMKM sebesar 0,60 persen menjadi yang terendah dibanding sektor lainnya, yakni 2,83 persen.

“Rasion LDR Bank Jatim saat ini masih jauh di bawah standar yang ditetapkan Bank Indonesia. Artinya, penyaluran kredit Bank Jatim masih belum optimal dibandungkan ketersediaan dana yang ada,” ungkapnya.

Selain BUMD, Fraksi PDIP jelas Sasa juga mengingatkan masalah aset. Dia menyampaikan banyak aset yang belum tersertifikasi, masih sengketa, dan pemanfaatannya dikuasai pihak ketiga tanpa transparansi dan akuntablitas yang baik.

FPDIP lanjutnya juga menyoroti ketidaksamaan data tentang indeks pembangunan manusia (IPM) milik Pemprov dengan BPS. Dokumen LKPJ 2022 menarikan bahwa pertumbuhan IPM Provinsi Jawa Timur tertinggi di Pulau Jawa (0,65) dari 2019 sampai 2022.

“Akan tetapi data milik BPS menyebutkan bahwa IPM Jatim berada di urutan terbawah atau nomor 6 dari enam provisni di Pulau Jawa,” ungkapnya.

Selanjutnya yang juga menjadi perhatian Fraksi PDIP, yakni perhatian terhadap kesejahteraan petani dan peternak. (Ari)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist